Kamis, 12 Januari 2012

Makalah filsafat Islam (Hakikat dan Pengertian Islam)

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Islam dalam agama penyempurna dari agama-agama yang telah diturunkan oleh Allah kepada Ummat terdahulu, artinya Islam adalah agama terakhir. Oleh sebab itu pula sebagai agama yang sempurna tentunya Islam harus bersifat universal dan konfrehensif, dapat sesuai dengan setiap zaman dan setiap tempat dimana penganutnya berada.
Selain itupula Islam sebagai agama yang diridhai oleh Allah Swt. mestinya tidak bertentangan dengan fitrah (akal) manusia yang juga dikaruniakan oleh Allah kepada manusia sebagaimana yang dikemukakan oleh Quraish Shihab : Tidak ada pemisahan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu umum, karena semuanya bersumber dari satu sumber yaitu Allah Swt. Namun pada kenyataannya tidak jarang kita temukan antara akal dan wahyu dipertentangkan oleh masing-masing. Oleh sebab itu, maka dalam makalah kami ini diantara hal-ihwal yang akan kami sajikan yaitu “Bagaimana Pandangan Islam tentang Filsafat” sebagai bahan masukan untuk kita semua dan sekurang kurangnya menjadi bahan diskusi.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan kami ketengahkan dalam makalah kami ini :
1. Apakah pengertian Islam ?
2. Apakah Islam sebagai gejala alami yang universal ?
3. Apakah Islam agama universal dan eternal?
4. Apakah Islam dapat menjadi sumber pengetahuan?
5. Bagaimanakah pandangan Islam tentang filsafat?

BAB II
PEMBAHASAN



A. Pengertian Islam
Tidak ada keberuntungan bagi umat manusia di dunia dan akhirat kecuali dengan Islam. Kebutuhan mereka terhadapnya melebihi kebutuhan terhadap makanan, minuman, dan udara. Setiap manusia membutuhkan syari'at. Maka, dia berada di antara dua gerakan: gerakan yang menarik kepada perkara yang berguna dan gerakan yang menolak mara bahaya. Islam adalah penerang yang menjelaskan perkara yang bermanfaat dan berbahaya.
Kata Islam menurut pandangan umum yang berlaku, biasanya mempunyai konotasi dengan dan diartikan sebagai “agama Allah”. Agama, artinya jalan. Agama Allah berarti jalan Allah, yaitu jalan menuju kepada-Nya dan bersumber daripada-Nya. Allah adalah Tuhan seru sekalian alam, Tuhan yang menciptakan, menguasai, mengatur alam semesta ini.
Islam adalah agama Allah; yang berarti Islam adalah jalan menuju kepada Allah dan yang bersumber daripada-Nya.
Secara etimologis, kata Islam memang memiliki banyak pengertian, antara lain:
a. Kata Islam yang berasal dari kata kerja aslama, yuslimu, dengan pengertian “menyerahkan diri, menyelamatkan diri, taat, patuh dan tunduk”.
b. Dari segi kata dasar salima, mengandung pengertian antara lain “selamat, sejahtera, sentosa, bersih dan bebas dari cecat/cela”.
c. Jika dilihat dari kata dasar salam, maka akan berarti “damai, aman, dan tenteram”.
Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan taat dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan pelakunya. Barangsiapa yang berserah diri kepada Allah saja, maka dia adalah seorang muslim. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah dan yang lainnya, maka dia adalah seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak berserah diri kepada Allah , maka dia seorang kafir yang sombong.
Jadi pengertian Islam dapat disimpulkan sebagai berikut: “menempuh jalan keselamatan, dengan jalan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan melaksanakan dengan penuh kepatuhan dan ketaatan akan segala ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh-Nya, untuk mencapai kesejahteraan dan kesentausaan hidup dengan penuh keamanan dan kedamaian”.
Makna islam adalah :
1. Islam adalah Ketundukan
Allah menciptakan alam semesta, kemudian menetapkan manusia sebagai hambaNya yang paling besar perannya di muka bumi. Manusia berinteraksi dengan sesamanya, dengan alam semesta di sekitarnya, kemudian berusaha mencari jalan untuk kembali kepada Penciptanya. Tatkala salah berinteraksi dengan Allah, kebanyakan manusia beranggapan alam sebagai Tuhannya sehingga mereka menyembah sesuatu dari alam. Ada yang menduga-duga sehingga banyak di antara mereka yang tersesat. Ajaran yang benar adalah ikhlas berserah diri kepada Pencipta alam yang kepadaNya alam tunduk patuh berserah diri. Maka, Islam identik dengan ketundukan kepada sunnatullah yang terdapat di alam semesta (tidak tertulis) maupun Kitabullah yang tertulis (Alquran).
2. Islam adalah Wahyu Allah
Dengan kasih sayangnya, Allah menurunkan Ad-Dien (aturan hidup) kepada manusia. Tujuanya agar manusia hidup teratur dan menemukan jalan yang benar menuju Tuhannya. Aturan itu meliputi seluruh bidang kehidupan: politik, hukum, sosial, budaya, dan sebagainya. Dengan demikian, manusia akan tenteram dan damai, hidup rukun dan bahagia dengan sesamanya dalam naungan ridha Tuhannya. Karena kebijaksanaanNya, Allah tidak menurunkan banyak agama. Dia hanya menurunkan Islam. Agama selain Islam tidak diakui di sisi Allah dan akan merugikan penganutnya di akhirat nanti. Sebagaimana firman Allah, "Sesungguhnya Ad-Dien yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam. Sebab, Islam merupakan satu-satunya agama yang bersandar kepada wahyu Allah secara murni. Artinya, seluruh sumber nilai dari nilai agama ini adalah wahyu yang Allah turunkan kepada para RasulNya terdahulu. Dengan kata lain, setiap Nabi adalah muslim dan mengajak kepada ajaran Islam. Ada pun agama-agama yang lain seperti Yahudi dan Nasrani adalah penyimpangan dari ajaran wahyu yang dibawa oleh para nabi tersebut.
3. Islam adalah Agama Para Nabi dan Rasul
Perhatikan kesaksian Alquran bahwa Nabi Ibrahim adalah muslim, bukan Yahudi atau pun Nasrani. Nabi-nabi lain pun mendakwahkan ajaran Islam kepada manusia. Mereka mengajarkan agama sebagaimana yang dibawa Nabi Muhammad saw. Hanya saja, dari segi syariat (hukum dan aturan) belum selengkap yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Tetapi, ajaran prinsip-prinsip keimanan dan akhlaknya sama. Nabi Muhammad saw. datang menyempurnakan ajaran para Rasul, menghapus syariat yang tidak sesuai dan menggantinya dengan syariat yang baru. Menurut pandangan Alquran, agama Nasrani yang ada sekarang ini adalah penyimpangan dari ajaran Islam yang dibawa Nabi Isa a.s. Nama agama ini sesuai nama suku yang mengembangkannya. Isinya jauh dari Kitab Injil yang diajarkan Isa a.s.. Agama Yahudi pun telah menyimpang dari ajaran Islam yang dibawa Nabi Musa a.s.. Diberi nama dengan nama salah satu Suku Bani Israil, Yahuda. Kitab Suci Taurat mereka campur aduk dengan pemikiran para pendeta dan ajarannya ditinggalkan.
4. Islam adalah Hukum-hukum Allah di dalam Alquran dan Sunnah Orang yang ingin melihat Islam hendaknya melihat Kitabullah Alquran dan Sunnah Rasulullah. Keduanya, menjadi sumber nilai dan sumber hukum ajaran Islam. Islam tidak dapat dilihat pada perilaku penganut-penganutnya, kecuali pada pribadi Rasulullah saw. dan para sahabat beliau. Nabi Muhammad saw. bersifat ma'shum (terpelihara dari kesalahan) dalam mengamalkan Islam. Beliau membangun masyarakat Islam yang terdiri dari para sahabat Nabi Muhammad saw yang langsung terkontrol perilakunya oleh Allah dan RasulNya. Jadi, para sahabat Nabi tidaklah ma'shum bagaimana Nabi, tapi mereka istimewa karena merupakan pribadi-pribadi didikan langsung Nabi Muhammad saw. Islam adalah akidah dan ibadah, tanah air dan penduduk, ruhani dan amal, Alquran dan pedang sebagaimana telah dibuktikan dalam hidup Nabi, para sahabat, dan para pengikut mereka yang setia sepanjang zaman.
5. Islam adalah Jalan Allah Yang Lurus Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup bagi seorang muslim. Baginya, tidak ada agama lain yang benar selain Islam. Karena ini merupakan jalan Allah yang lurus yang diberikan kepada orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah.
6. Islam Pembawa Keselamatan Dunia dan Akhirat
Sebagaimana sifatnya yang bermakna selamat sejahtera, Islam menyelamatkan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Keselamatan dunia adalah kebersihan hati dari noda syirik dan kerusakan jiwa. Sedangkan keselamatan akhirat adalah masuk surga yang disebut Daarus Salaam. Allah menyeru (manusia) ke Daarus Salaam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam). Dengan enam prinsip di atas kita dapat memahami kemuliaan dan keagungan ajaran agama Allah ini. Nabi Muhammad saw. bersabda, "Islam itu tinggi dan tidak ada kerendahan di dalamnya." Sebagai ajaran, Islam tidak terkalahkan oleh agama lain. Maka, setiap muslim wajib meyakini kelebihan Islam dari agama lain atau ajaran hidup yang lain. Allah sendiri memberi jaminan.


B. Kepercayaan
Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah" - yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah". Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, berarti ia sudah dapat dianggap sebagai seorang Muslim atau mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).
Kaum Muslim percaya bahwa Allah mewahyukan al-Qur'an kepada Muhammad sebagai Khataman Nabiyyin (Penutup Para Nabi) dan menganggap bahwa al-Qur'an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber fundamental Islam.
Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai pembaharu dari keimanan monoteistik dari Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi lainnya (untuk lebih lanjutnya, silakan baca artikel mengenai Para nabi dan rasul dalam Islam). Tradisi Islam menegaskan bahwa agama Yahudi dan Kristen telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks atau memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.
Umat Islam juga meyakini al-Qur'an sebagai kitab suci dan pedoman hidup mereka yang disampaikan oleh Allah kepada Muhammad. melalui perantara Malaikat Jibril yang sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya. Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur'an hingga akhir zaman dalam suatu ayat.
Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an, umat Islam juga diwajibkan untuk mengimani kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur, Taurat, Injil dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu adalah benar adanya. Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Umat Islam juga meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah agama tauhid, dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni imannya) maka menjadikannya seorang muslim. Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering disebut sebagai Ahli Kitab atau Ahlul Kitab.
Hampir semua Muslim tergolong dalam salah satu dari dua mazhab terbesar, Sunni (85%) dan Syiah (15%). Perpecahan terjadi setelah abad ke-7 yang mengikut pada ketidaksetujuan atas kepemimpinan politik dan keagamaan dari komunitas Islam ketika itu. Islam adalah agama pradominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebagian besar Afrika dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran Muslim di bagian lain dunia, seperti Eropa Barat. Sekitar 20% Muslim tinggal di negara-negara Arab, 30% di subbenua India dan 15.6% di Indonesia, negara Muslim terbesar berdasar populasi.



C. Islam Sebagai Gejala Alami yang Universal
Kekuatan besar, semua hukum yang meresap, yang memerintah dan yang mengatur seluruh dan bagian-bagian serta yang menyusun alam semesta ini, mulai dari noda debu yang terkecil sampai kepada galaksi raksasa yang hebat di langit yang tinggi, adalah hukum Tuhan, pencipta dan pengatur alam semesta ini.
Karena seluruh makhluk dan seluruh alam semesta ini tunduk dan patuh kepada hukum-hukum Tuhan, maka secara harfiyah seluruh alam semesta ini beserta segala isi yang ada di dalamnya adalah muslim, mengikuti dan melaksanakan Islam, karena Islam adalah tidak lain kecuali berarti kepatuhan dan penyerahan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Jadi bumi, matahari, bulan, bintang-bintang dan semua benda-benda langit lainnya semuanya adalah muslim. Udara, air, panas, batu, pohon-pohonan dan binatang serta segala sesuatu yang ada dan menjadi isi alam semesta ini, adalah muslim, karena mereka patuh kepada Tuhan semesta alam dan mengikuti hukum-hukum-Nya.
Islam itu pada hakikatnya adalah jalan hidup yang alami, jalan hidup yang sesuai dengan menurut kenyataan, jalan hidup yang menurut hukum-hukum dan proses alamiah, dan jalan hidup menurut aturan dan hukum-hukum yang ditetapkan oleh Tuhan.

D. Islam Sebagai Agama Universal dan Eternal
Sebagai agama yang terakhir, Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW (sebagai utusan terakhir) berfungsi sebagai rahmatan lil’alamin yaitu rahmat dan nikmat bagi seluruh alam, utamanya bagi kehidupan manusia. Sebagai risalah yang terakhir, islam memiliki nilai universal dan eternal, sesuai dengan kebutuhan manusia. Islam memiliki bentuk ajaran yang lebih sempurna dibanding dengan ajaran sebelumnya.
Untuk memenuhi semua kebutuhan kehidupan manusia, Islam memiliki tiga inti ajaran yang merupakan inti dasar dalam mengatur kehidupan manusia. Secara umum dasar-dasar ajaran Islam itu meliputi aqidah, syari’ah dan akhlaq. Dasar-dasar tersebut menunjukkan sifat universalitas dan eternalitas Islam.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman sekitar peristiwa turunnya Adam dan Hawa (manusia) ke dunia, sebagai berikut:
     • •            

Artinya: “Kami berfirman : Turunlah kamu semuanya dari surga itu, Kemudian jira datang petunjuk-Ku lepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk_ku niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”. ( Al-Qur’an surat Al-Baqarah:38).

1. Aqidah
Tiap-tiap pribadi pasti memiliki kepercayaan, meskipun bentuk dan pengungkapannya berbeda-beda. Pada dasarnya manusia memang membutuhkan kepercayaan. Kepercayaan akan membentuk sikap dan pandangan hidup seseorang.
Tentang kepercayaan ini pada umumnya orang memberikan gambaran sebagai suatu tempat bersandar atau tempat pengembalian segala masalah yang di luar jangkauan batas kemampuan akal dan pikiran manusia. Dengan kata lain pa yang menjadi pusat kepercayaan itu dipandang memiliki sesuatu yang lebih tinggi, baik kepercayaan yang masih berkisar pada dunia yang kecil (microcosmos) atau pada alam yang melingkupi kita (macrocosmos) ataupun yang diluar keduanya.
Dalam proses manusia mencari kepercayaan akan dijumpai adanya bermacam-macam konsep dari yang masih sederhana (dinamisme, animisme) sampai kepada yang sudah sempurna (monotheisme). Dan setipp agama pasti memiliki konsep dasar kepercayaan yang oleh para ahli theology disebut sebagai pengertian-pengertian dasar keagamaan (Basic Theological Consepts)
2. Syari’ah
Pengertian syari’at dalam istilah yang sering dipakai dalam kalangan para ahli hukum islam ialah hukum-hukum yang diciptakan oleh Allah SWT untuk segala hamba-Nya agar mereka itu mengamalkannya untuk kebahagian dunia akhirat, baik hukum-hukum itu bertalian dengan perbuatan,akidah dan akhlak.
Berdasarkan pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:
a. Syari’at itu kumpulan ordonasi yang diwajibkan Tuhan, berupa peraturan-peraturan, perintah-perintah, dan larangan-Nya.
b. Kumpulan hukum-hukum yang tergantung kepada perbuatan-perbuatan, akidah dan akhlak.
c. Hukum itu adalah ciptaan Tuhan untuk hamba-hamba-Nya.
d. Hukum-hukum itu diterima, dibawa dan disampaikan oleh seorang Nabi untuk umat manusia.
e. Tujuan hukum adalah agar umat manusia selamat dan bahagia duniawi dan ukhrowi.
f. Kumpulan hukum yang berkenaan dengan cara pengerjaan amal disebut dengan ilmu Fiqih.
g. Sebagai dan perundang-undangan Tuhan maka Syari’at Islam bersifat Universal dalam arti dapat diterapkan pada semua bangsa, disemua tempat dan waktu. Oleh karena itu ciri-ciri daripada syari’ah ialah:
a. Syari’ah memberikan aturan-aturan atau prinsip-prinsip umum, dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi manusia untuk mengembangkannya.
b. Sedang pada masalah-masalah yang tidak berkaitan dengan perkembangan manusia, syari’ah memberikan peraturan-peraturan yang terperinci biasanya dalam masalah-masalah yang bersifat ta’abbudy (berupa ibadah) misalnya tentng wudhu dan tayamum, tentang muhrim, pembagian harta warisan, dan zakat, masing-masing secara detail yang telah dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an.
c. Syari’ah bersifat tidak memberatkan dalam arti bahwa tuntunan syari’ah disesuaikan dengan kadar kmampuan manusia. Atau dengan kata lain hukum Tuhan tidak akan memaksa manusia sampai melampaui kadar kemampuannya.
d. Dalam syari’ah Islam lebih banyak terkandung di dalam hal-hal yang diperbolehkan (mubah) dengan sedikit sekali kewajiban yang berisi “perintah” dan “larangan” sehingga memberikan keluasaan ruang gerak kehiduoan manusia dan tidak dalam serba keterkaitan larangan-larangan yang ketat.
e. Penetapan hukkum syari’ah secara berangsur-angsur tidak sekaligus.
Prof. Dr Mahmud Syaltout dalam bukunya Al Islam Aqidah wa al-syari’ah, pengertian syari’ah dalah peraturan-peraturan yang diciptakan Allah atau yan g diciptakan pokok-pokoknya supaya manusia berpegang kepada-Nya di dalam hubungan dengan Tuhannya, hubungan dengan saudara sesama muslim, hubungan dengn alam seluruhnya, dan hubungan dengan kehidupan.


3. Akhlaq
Akhlak secara etimilogis merupakan bentuk jamak (plural) dari kata “khuluqun” diartikan sebagai perangai atau budi pekerrti, gambaran batin atau tabiat karakter. Kata akhlak serumpun dengan kata “khalqun” yang berarti kejadian dan bertalian dengan wujud lahir atau jasmani sedangkan akhlak nertalian dengan faktor rohani, sifat atau sikap bathin. Factor lahir dan batin adalah dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dari manusia, sebagaimana tidak dapat dipisahkannya jasmani dan rohani.
Untuk itulah Islam lewat ajaran-ajarannya yang universal dan eternal mengatur keduanya dalam upaya pemenuhan kebutuhan jasmaniah dan rohaniah. Akhlak merupakan pokok esensi ajaran Islam pula-disamping aqidah dan syari’ah- karena dengan akhlak akan terbina mental dan jiwa seseorang untuk memiliki hakikat kemanusiaan yang tinggi. Dengan akhlak dapat dilihat corak dan hakikat manusia yang sebenrnya. Sehigga sebenarnya inti yang hakiki misi Muhammad SAW adalah pada pembinaan akhlak mannusia.
Akhlak atau etika mennurut ajaran Islam meliputi hubungan dengan Allah (Khaliq) dan hubungan dengan sesama makhluk (baik manusia maupun nonmanusia) yaitu kehidupan individu, keluarga rumahtangga, masyarakat, bangsa, dengan makhluk lainnya seperti hewan, tumbuhan, alam sekitar dan sebagainya.
Selanjutnya akhlak dalam agama Islam adalah suatu ilmu yang dipelajari di dalamnya tingkah laku manusia, atau sikap kehidupan manusia dalam pergaulan hidup.
Praktek pelaksanaan akhlak adalah berpedoman kepada nash Al-Qur’an dan Al-Hadist, perbuatan yang dianggap benar adalah perbuatan-perbuatan yang berpijak pada kebenaran yang telh digariskan oleh nash agama yang bersumber kepada revelasi atau wahyu.
Menurut asas ilmu jiwa , menjelaskan bahwa kehidupan manusia banyak dipengaruhi unsure-unsur hewaniyah. Dan unsure hewaniyah inilah yang banyak menjerumuskan manusia ke alam yang lebih rendah dari hewan itu sendiri. Frman Allah Surat Al-A’raf:176.
    •    •                         
Artinya: “dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. Surat Al-A’raf:176).


E. Islam sebagai Sumber Pengetahuan
Imam Al-Gazali berpendapat Al-Qur’an adalah (bagaikan) samudra dan bahwa dari Al-Qur’an timbullah ilmu-ilmu awal dan akhir.
Kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Qur’an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian dan objek pengetahuan. Selanjutnya menurut Quraish Shihab dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan (pendidikan) bukan dinilai dari segi banyaknya teori-teori ilmiah yang tersimpul didalamnya melainkan yang lebih penting adalah melihat adakah jiwa dari setiap ayat-ayatnya yang menghalangi kemajuan atau bertentangan dengan penemuan ilmiah.
Islam sebagai sumber pengetahuan dengan melalui wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW yang telah dilahirkan di antara masyarakat yang buta aksara, adalah suatu perintah untuk menguasai kemampuan baca tulis dan penghargaan pena yang hanya sebagai alat penggali ilmu pengetahuan. Dapat kita lihat dalam Surat Al-Alaq: 1-5:
                        
Artinya: “ bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Kalau kita cermati diantara kandungan ayat-ayat al-Qur’an sebagai sumber pokok ajaran Islam maka kita tidak akan menjumpai satupun diantara ayatnya yang bertentangan dengan penemuan-penemuan ilmiah. Bahkan terkadang sesuatu yang belum dapat ditemukan oleh para ilmuan, Al-Qur’an telah jauh-jauh hari sebelumnya telah memberikan informasi tentangnya meskipun dalam bentuk yang sangat singkat.

F. Pandangan Islam tentang Filsafat
H.E Saifuddin Anshari telah menyimpulkan pengertian filsafat dari pengertian yang diberikan oleh para filosof bahwa :
1. Filsafat adalah ilmu yang istimewa, yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak mampu dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa karena berada diluar jangkauannya.
2. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat sarwa kekalian yang ada.
Ahmad Fuad Al Ahwawi menyatakan dalam kitabnya bahwa filsafat itu adalah sesuatu yang terletak diantara ilmu pengetahuan dan agama, karena disatu sisi ia mengandung permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diketahui dan difahami sebelum orang beroleh keyakinan dan ia menyerupai ilmu pengetahuan disisi lain karena ia ia merupakan hasil akal pikiran manusia.
Antara ilmu pengetahuan dan agama inilah yang selanjutnya dalam hubungan antara akal (filsafat) dan syari’at (agama) Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa hubungan antara akal dan syari’at adalah hubungan pengetahuan, bisa jadi akal mengetahui syari’at dan bisa jadi tidak bukan untuk menetapkan adanya syari’at atau tidak adanya.
Antara ilmu pengetahuan dan agama inilah yang dimaksudkan filsafat. Banyak persoalan yang tidak dapat dijawab secara ilmu pengetahuan. Dapat diterima dan dirasakan oleh manusia. Filsafat itu adalah peninjauan yang lengkap dan dalam keseluruhan mengenai hidup manusia. Filsafat itu adalah alat untuk menguraikan kesukaran-kesukaran yang terletak diantara ilmu pengetahuan dan agama. Dan Filsafat itu adalah penggunaan pikiran yang dapat membawa manusia lepada amal dan suatu tujuan tertentu. Dapat kita lihat pada ayat Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 7:
              •                        •            
Artinya: “Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang beraka”l.

Dari uraian singkat di atas dapat difahami bahwasanya filsafat dibutuhkan untuk memahami isi kandungan Al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam dan pada dasarnya keduanya akan mengantarkan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah hanya saja kalau agama menuntun manusia melalui wahyu yang diturunkan oleh Allah secara langsung maka filsafat adalah usaha frogresif manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.







BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Islam adalah agama Allah; yang berarti Islam adalah jalan menuju kepada Allah dan yang bersumber daripada-Nya. Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah" - yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah".
Kekuatan besar, semua hukum yang meresap, yang memerintah dan yang mengatur seluruh dan bagian-bagian serta yang menyusun alam semesta ini, mulai dari noda debu yang terkecil sampai kepada galaksi raksasa yang hebat di langit yang tinggi, adalah hukum Tuhan, pencipta dan pengatur alam semesta ini.
Untuk memenuhi semua kebutuhan kehidupan manusia, Islam memiliki tiga inti ajaran yang merupakan inti dasar dalam mengatur kehidupan manusia. Secara umum dasar-dasar ajaran Islam itu meliputi aqidah, syari’ah dan akhlaq. Dasar-dasar tersebut menunjukkan sifat universalitas dan eternalitas Islam.

B. Saran
Semoga makalah ini berguna bagi pembaca terkhusus untuk penulis sendiri. Untuk itu kritik dan saran dari pembaca Sangay penulis harapkan guna perbaikan makalah dimasa yang akan datang.






DAFTAR PUSTAKA







A’la Maududi, Abu. 1967. Towards Understanding Islam. Islamic Fublication Ltd, Lahore, Dacca

Anshari, E. Saifuddin. 1980. Kuliah Al Islam. Bandung: Perp. Salman ITB,

Bakar, Abu Aceh. 1970. Sejarah Filsafat Islam. Semarang : CV Ramadhoni

Gazalba, Sidi. 1975. Anzis Agama Islam. Jakarta : Bulan Bintang

Madkur, Ibrahim. 2004. Aliran dan Teori Filsafat Islam. Bumi Aksara : Jakarta.

Nasution, Dr. Harun. Beberapa konsep ketuhanan dapat dibaca buku “Filsafat Agama”

Dr. H. Waly, Muhibbuddin MA. 1971. Sejarah Syari’ah Islam di Indonesia. Majalah Ilya Ulumuddin, No 12 Juni.

http://js.ugm.ac.id/kabar/kabar-js/231-diskusi-terbatas-islam-sebagai-sumber ilmu.html

http://filsafat.kompasiana.com/2011/05/12/filsafat-pendidikan-islam/

http://www.yousaytoo.com/hakikat-islam/466798

Kamis, 24 November 2011

KISAH HIDUPKU

MY MEMORY

Kita hidup di dunia ini dengan tujuan yang sama yaitu mencari kebahagiaan hidup baik di dunia dan di kehidupan akhirat, yang membedakannya hanyalah bagaimana cara kita mencapai tujuan itu dan menjalani kehidupan ini. dalam hidup tentunya banyak sekali warna-warninya, hidup itu bagaikan sebuah roda kadangkala kita berada di atas, kadangkala kita berada di bawah.

“Aku dilahirkan sekitar 24 tahun yang silam, aku terlahir dari keluarga yang pas-pasan. Meskipun begitu aku amat bersyukur, karena aku hidup dengan kedua orang tua yang harmonis. Memilki ayah yang sangat bertanggung jawab dengan keluarga dan amat menyayangi anak-anaknya. Ibuku juga sama dengan ayah, ibu yang cantik dan amat penyabar. Kami hidup di sebuah pondok persawahan yang sangat jauh dari pemukiman penduduk. Sungguh ironis memang,, meskipun kami memiliki kakek dan nenek yang amat terpandang dikampung kami, tapi mereka amat membenci keluargaku, tak tau sebabnya mengapa mereka begitu hingga membuat hatiku sakit selama bertahun-tahun hingga sekarang. Oh kakek….oh nenek,…tidak bisakah kalian menyayangi kami seperti cucu-cucumu yang lain….????????

“Tapi,…meskipun hidup kami amat menyedihkan begitu kami tak pernah lupa untuk berdoa, kami yakin masih ada yang sangat menyayangi kami, masih ada yang peduli dengan keluarga kami yang pas-pasan. Aku selalu teringat pesan ayah-dan ibu”..Anak-anaku kalian tak perlu bersedih dan berkecil hati,.. Allah tidak pernah tidur, Allah selalu menyayangi kita,..pesan yang amat bermakna bagi kami anak-anaknya”…

“Doa ayah dan ibu didengar oleh sang Khalik,.. setelah sekian tahun kami hidup menderita,, tak disangka-sangka Ibuku Lulus tes Pegawai Negeri sipil” Allhamdullilah sujud syukur kami sekeluarga untuk sang Pencipta, untuk sang maha Agung…kini hidup kami sudah lebih dari cukup

“ Namun kebahagiaan itu tak lama kami rasakan, keimanan kami kembali di uji, selang 5 tahun kemudian ayah yang amat kami banggakan, kami sayangi jatuh sakit. Begitu besar biaya yang harus ibu keluarkan. Biaya rumah sakit yang begitu mahal dan keterbatasan obat juga menjadi hal yang paling buruk. “Kami panic, kami takut,..hal-hal buruk mulai hadir dalam pikiranku,.. kami tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan ayah. Namun apa mau dikata, Allah berkehendak lain. “Ayah meninggal menghadap sang Khalik,. Aku menjerit tak berdaya, aku marah, sulit untuk diterka teka-teki ini. “Ayah mengapa begitu cepat meninggalkan kami,.. Kami yang masih kecil-kecil yang masih membutuhkan kasih sayang dari mu ayah, kami yang masih sangat membutuhkan perlindungan dari mu…”namun aku bangga sama ibu, ibuku yang cantik dengan sabar dan tegar menghadapi lagi cobaan ini.” Mulai saat itu, ibulah satu-satunya yang menjadi tulang punggung keluarga, menjadi ibu serta menjadi ayah bagi anak-anaknya.”

“Tak terasa kini aku telah tumbuh dewasa, berkat ibu aku bisa seperti ini, kegigihan ibu dan kekuatan dari ibu kami bisa bertahan dan tumbuh menjadi dewasa. “Terimakasih Ibu,…berkat ibu aku bisa seperti sekarang ini,.”kini aku telah lulus serjana”…”Tak tau apa yang harus aku katakan”” I Love You Mom””. Tetaplah bertahan menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakmu ini…….

“Bersambung……

Kamis, 03 November 2011

AL-MUHKAM AL-MUTASYABIH

AL-MUHKAM AL-MUTASYABIH


A. PENGERTIAN AL-MUHKAM AL-MUTASYABIH
1. Al-Muhkam,
Muhkam berasal dari kata Ihkam yang bearti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan, dan pencegahan. Sedangkan secara terminology muhkam berarti ayat-ayat yang jelas maknanya, dan tidak memerlukan keterangan dari ayat-ayat lain.
Contoh surat Al- Baqarah ayat 83 :
Artinya : “dan ketika kami mengambil janji dari anak-anak Israel : tidak akan menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikan kepada Ibu, Bapak dan kerabat dekat dan anak-anak-piatu dan orang-orang miskin, dan ucapkanlah kata yang baik kepada manusia, dan kerjakanlah sembahyang dan bayarlah zakat, kemudian itu kamu berpaling kecuali sebagian kecil dari padamu dan kamu tidak mengambil perduli”

2. Al-Mutasyabih
Kata mutasyabih berasal dari kata tasyabuh yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal. Tasyahabad Isttabaha berarti dua hal yang masing-masing menyerupai yang lainnya.
Sedangkan secara terminology Al Mutasyabih berarti ayat-ayat yang belum jelasmaksudnya, dan mempunyai banyak kemungkinan takwilnya, atau maknanya yang tersembunyi, dan memerlukan keterangan tertentu, atau Allah yang mengetahuinya.



Contoh surat Thoha ayat 5 :
Artinya : “( Allah ) yang maha pemurah, yang bersemayam diatas ‘Arasy”.
Sedangkan menurut pengertian yang ada:
1) Ayat-ayat Muhkam yang dikemukakan Ahlusunnah
Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan mudah
Mutsyabih adalah ayat yang maksudnya hanya diketahui Allah.
2) Ayat-ayat mahkam adalah ayat-ayat yang jelas, sedangkan muthasyabih adalah sebaliknya.
3) Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memungkinkan
4) Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang dipahami akal dan muthasyabih
5) Ayat muhkam adalah ayat yang bias berdiri sendiri sedangkan mutsyabih adalah ayat yang bergantung dengan ayat lain.
6) Ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya segera dapat diketahui sedangkan muthasyabih penafsiran untuk mengetahuinya
7) Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang lafaz-lafaznya tidak berulang-ulang sedangkan ayat muthasyabih sebaliknya
8) Ayat muhkam adalah ayat yang membicarakan tentang kefardhuan ancaman dan janji, sedangkan ayat muthasyabih berbicara tentang perumpaah dan kisah.
9) Ibnu hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Ali bin abhi Tholib dari ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat muhkam adalah ayat yang berbicara halal- haram, ketentuan yang harus dipahami dan diamalkan sedangkan muthasyabih berbicara tentang sumpah yang harus diimani tapi tidak harus diamalkan.
10) Abdullah bin Hamid mengeluarkan riwayat dari Abdullah anak dahak bin Al-Muzahi, (10.105 H) yang mengatakan muhkam adalah ayat yang tidak dihapus dan muthasyabih sebaliknya.
11) Ibnu Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Muqatil bin Ayyan yang mengatakan ayat Muthasyabih adalah seperti alif, lam. Mim, aliflamro, dan lain-lain.
12) Ibnu Abu Hatim mengatakan (w. 105 H). Qatadah bin duaman (w. 117 H) mengatakan ayat-ayat mulihkan adalah ayat yang harus di mani dan diamalkan dan muthasyabih harus diimani tapi tidak diamalkan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpilkan bahwa Muhkam adalah “ayat yang jelas”. Masuk kedalam kategori muhkam adalah nash (kata yang terang dan tegas). Sedangkan muthasyabih yaitu makna yang belum jelas, kategorinya adalah mujmal (global), mu’awal harus takwil, musykil dan muhkam (ambigius)

B. SIKAP ULAMA TERHADAP AYAT-AYAT MUTASYABIH DAN AYAT-AYAT MUHKAM.
Menurut Al-Zarqani, ayat-ayat Mutasyabih dapat dibagi 3 ( tiga ) macam :
1. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat mengetahui maksudnya, seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hari kiamat, hal-hal gaib, hakikat dan sifat-sifat zat Allah. Sebagian mana firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 59 :
Artinya : “dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang
mengetahui kecuali Dia sendiri.
2. Ayat-ayat yang setiap orang bias mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian, seperti ayat-ayat : Hutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutannya, dan seumpamanya.
Contoh surat An-Nisa’ ayat 3 :
Artinya : “dan jika kamu takut tidak adakn dapat berlaku adil terhadap ( hak-hak ) perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita”.
3. Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para Ulama tertentu dan bukan semua Ulama. Maksud yang demikian adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati seseorang yang jernih jiwanya dan mujahid. Sebagai mana diisyaratkan oleh Nabi dengan do’anya bagi Ibnu Abbas :
Artinya :“ Ya Tuhanku, jadikanlah seseorang yang paham dalam agama,dan ajarkanlah kepada takwil”.


Mengenal ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah, pendapat Ulama terbagi kepada dua mazhab :
a. Mazhab salaf.
Yaitu mazhab yang mempunyai dan mengimani sifat-sifat Allah yang Mutasyabih, dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah.
b. Mazhab Khakaf.
Yaitu Ulama yang menakwilkan lafal yang maknanya lahirnya musthahil kepada makna yang baik bagi zat Allah, contohnya mazhab ini mengartikan mata dengan pengawasan Allah, tangan diartikan kekuasaan Allah, dan lain-lain.
Pada hakikatnya tidak ada pertentangan antara pendapat Ulama tersebut, permasalahannya hanya berkisar pada perbedaan dalam menakwilkannya.
Secara teoritis pendapat Ulama dapat di kompromikan, dan secara praktis penerapan mazhab khalaf lebih dapat memenuhi tuntutan kebutuhan intelektual yang semakin hari semakin berkembang dan kritis. Dengan melihat kondisi obyektif intelektual masyarakat modern yang semakin berpikirkritis dewasa, maka mazhab khalaf atau mazhab takwil ini yang lebih tepat diterapkan dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat dengan mengikuti ketentuan takwil yang dikenal dengan ilmu tafsir.

C. FAWATIH AS-SUWAR.
Fawatih As-Suwar yaitu pembukaan-pembukuan surat yang dimulai dengan potongan-potongan huruf, yang pada umumnya terdapat pada pembukuan ayat atau surat makkiah / huruf- huruf hijaiyah. Pembukuan surat ini ada yang terdiri dari dua huruf, enam huruf, lima huruf dan lain-lain. Seperti :
Dalam hal ini ada beberapa pendapat Ulama diantaranya yaitu :
a. Ulama memahami Fatwatil Al-Suwar ini sebagai rahasia hanya Allah yang mengetahuinya.
b. Ulama ini mengatakan bahawa huruf-huruf awal surat sebagai huruf-huruf yang mengandung pengertian dapat dipahami oleh menusia, karena penganut pendapat ini memberi pengertian kepada ayat ini :
Contoh :
Yang berarti “Aku Allah yang Melihat”.
Sedangkan sebagian Ulama memnadang huruf ini sebagai peringatan ( tanbih ) kepada agar Ulama waktu kesibukannya dengan urusan manusia berpaling kepada Jibril untuk mendengar ayat-ayat yang akan disampaikan kepadanya. Sebagian yang lain memandang sebagai peringatn kepada orang Arab agar mereka tertarik mendengarnya.
Pendapat Ulama tentanghuruf hijaiyah pembuka surat.
1) Az Zamakhsari berkata dalam tafsirnya “Al- Qasysyaf” hururf-huruf ini ada beberapa pendapat, yaitu :
a. Merupakan nama surat.
b. Sumpah Allah
c. Supaya menarik hati orang yang mendengarnya.
2) As Suyuti menakwilkan pendapat Ibnu Abbas tentang huruf tersebut sebagai berikut :
Dikatakan bahwa pendapat itu hanya merupakan anggapan belaka, kemudian As-SSuyuti menerangkan bahwa hal itu suatu rahasia yang hanya Allah lah yang mengetahuinya.
3) Al- Quwabi mengatakan bahwasannya kalimat itu merupakan tambih bagi Nabi, maka Allah menyuruh Jibril untuk memberikan perhatian terhadapa apa yang disampaikan kepadanya.
4) As-Sayid Rasyid Ridha tidak membenarkan Al-Quwabi karena Nabi senantiasa menunggu kedatangan wahyu, Ia berpendapat sesuai dengan Ar-Rasi, bahwa tambih sebenarnya dihadapkan kepada orang-orang kafir apabila nabi membaca Al-Qur’an mereka menganjurkan satu sama lain untuk tidak mendengarkannya.
5) Ulama salaf berpendapat bahwa fawati Al-Suwar telah disusun sejak zaman azali sedemikian rupa supaya melengkapi segala yang melemahkan manusia dari yang didatangkan seperti Al-Qur’an.
Oleh karena itu I’Tikad bahwa huruf-huruf ini telah sedemikian dari azalinya, maka banyaklah orang tidak berani mengeluarkan pendapat tentang huruf-huruf itu, orang menganggap huruf itu termasuk golongan mutasyabihat yang hanya Allah lah yang mengetahuinya.

D. HIKMAH ADANYA AYAT-AYAT MUTASYABIHAT DAN AL- MUHKAM
a. Ayat-ayat Mutasyabihat ini mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap maksudnya sehingga menambah pahala bagi orang yang mengkajinya.
b. Jika ayat-ayat Al-Qur’an mengandung ayat Mutasyabihat maka untuk memehami diperlukan cara penafsiran dan tarjih antara satu dengan yang lainnya, hal ini memerlukan berbagai ilmu, seperti Bahasa, Gramatika, Ma’ni, Ilmu Bayan, Ushul Fiqih, dan sebagainya.
c. Ayat-ayat Mutasyabihat merupakan rahmat bagi manusia yang lemah yang tidak mengetahui segala sesuatu.
d. Ayat ini juga merupakam cobaan bagi manusia apakah mereka percaya atau tidak tentang hal yang gaib.
e. Ayat ini menjadi dalil atas kebodohan dan kelemahan manusia.
f. Ayat ini dalam Al-Qur’an menguatkan kemukjjizatannya.







KESIMPULAN

Ayat-ayat muhkam dan mutasyabih adalah dua hal yang saling melengkapi dalam Al-Qur’an. Muhkam sebagai ayat yang tersurat merupakan bukti bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai bayan (penjelas) dan hudan (petunjuk). Mutasyabih sebagai ayat yang tersirat merupakan bukti bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai mukjizat dan kitab sastra terbesar sepanjang sejarah manusia yang tidak akan habis-habisnya untuk dikaji dan di teliti.
Secara teoritis pendapat Ulama dapat di kompromikan, dan secara praktis penerapan mazhab khalaf lebih dapat memenuhi tuntutan kebutuhan intelektual yang semakin hari semakin berkembang dan kritis. Fawatih As-Suwar yaitu pembukaan-pembukuan surat yang dimulai dengan potongan-potongan huruf.



















DAFTAR PUSTAKA




Anwar, Rosihan.200. Ulumul Qur’an. Bandung: CV Pustaka Setia.

Chirzin, Muhammad. 2003. Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa.

Pangabean, Samsurizal. 1989. Makna Muhkam dan Mutasyabih dalam Al-Qur’an. Makalah IAIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta.

Syaidali, Ahmad dan Rofi’i, Ahmad. 2000. Ulumul Qur’an I. Bandung: CV. Pustaka Setia.


















MUHKAM DAN MUTASYABIH






Disusun Oleh
Kelompok 7
1. Ardi Wiranata
2. Higian Kurniawan


Dosen pembimbing
Nilda Susilowati, M.Ag



PROGRAM STUDI AKHWALUS SYAKHSIAH
JURUSAN SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) BENGKULU
2011

Jumat, 22 Juli 2011

tips menghilangkan rasa jenuh!!!.....

Rasa bosan, jenuh, malas dan sejenisnya sebenarnya adalah hal yang sangat manusiawi karena menjadi bagian dari emosi. Tapi kalau secara terus-menerus, kayaknya gak asik juga yah. Kalau rasa bosan sudah menyerang, pasti bawaanya bakalan males. Semua pekerjaan yang ada, tidak dikerjakan dengan semaksimal mungkin. Begitupun juga dengan hasilnya, gak bakalan maksimal.

Terkadang kita iri melihat orang-orang disekeliling kita yang kerjaannya wara-wiri kesana kemari, bersenang-senang dan lain sebagainya. Kadang kita merasa bosan dengan segala rutinitas yang kita lakukan. Kita merasa jenuh dan menganggapnya hal itu selalu monoton, tak ada perubahan sedikit pun.

Agar masalah di atas sedikit teratasi, maka Aisyah akan sedikit berbagi pengalaman agar kita tidak merasa jenuh berkepanjangan:
1. Untuk menghilangkan rasa jenuh tersebut, adakalanya kita perlu yang namanya refreshing. Walaupun sejenak, tak menjadi masalah, yang terpenting otak ini sudah sedikit “segar” untuk menerima tumpukan-tumpukan pekerjaan baru. Biasanya, waktu yang tepat untuk refreshing adalah saat hari minggu. Hari minggu adalah hari sejuta umat, hari yang tepat untuk bermalas-malasan
2. Untuk menghilangkan rasa jenuh tersebut bisa juga dengan cara jalan-jalan, nonton, makan bersama orang yang kita cintai ( keluarga, adik, kakak, ayah dan ibu. Lebih asyik lagi kalo dengan pacar atau suami/istri kita).
3. Cara lain untuk menghilangkan rasa jenuh bisa dilakukan dengan olahraga, biasanya setelah selama 6 hari full kita melakukan rutinitas kita merasa otot-otot kita sedikit tegang, sehingga membuat kita serba salah. Untuk itu olahraga juga cocok buat menghilangkan rasa jenuh, apalagi untuh kesehatan.

Jadi gampangkan cara menghilangkan rasa jenuh….. (selamat mencoba)!!!!!

Sabtu, 25 Juni 2011

Makalah Dasar-Dasar Pendidikan (Pengertian Pendidikan, Fungsi Dan Lingkungan Pendidikan

BAB I

PENDAHULAUN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Disisi lain proses perkembangan dan pendidikan manusia tidak hanya terjadi dan dipengaruhi oleh proses pendidikan yang ada dalam sistem pendidikan formal (sekolah) saja. Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan.

Dengan kata lain proses perkembangan pendidikan manusia untuk mancapai hasil yang maksimal tidak hanya tergantung tentang bagaimana sistem pendidikan formal dijalankan. Namun juga tergantung pada lingkungan pendidikan yang berada di luar lingkungan formal.

B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini akan dicoba untuk membahas dan menjabarkan tentang:

1. pengertian pendidikan

2. fungsi pendidikan

3. lingkungan pendidikan

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan

Pendidikan memiliki definisi yang sangat luas dan dapat dilihat dari berbagai sudut. Definisi Umum Pendidikan dapat diartikan sebagai Suatu metode untuk mengembangkan keterampilan, kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi lebih baik.

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara dan pembuatan mendidik

Menurut Undang-Undang

a. UU SISDIKNAS No. 2 tahun 1989 : Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya di masa yang akan dating

b. UU SISDIKNAS no. 20 tahun 2003: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Etimologi (Bahasa)

Bahasa Arab : berasal dari kata Tarbiyah, dengan kata kerja Rabba yang memiliki makna mendidik atau mengasuh. Jadi Pendidikan dalam Islam adalah Bimbingan oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani dan akal anak didik sehingga bisa terbentuk pribadi muslim yang baik.

Bahasa Yunani : berasal dari kata Pedagogi, yaitu dari kata “paid” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing. Itulah sebabnya istilah pedagogi dapat diartikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak (the art and science of teaching children)

Psikologi

Pendidikan adalah Mencakup segala bentuk aktivitas yang akan memudahkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dasar Pendidikan

Dasar pendidikan adalah pondasi atau landasan yang kokoh bagi setiap masyarakat untuk dapat melakukan perubahan sikap dan tata laku dengan cara berlatih dan belajar dan tidak terbatas pada lingkungan sekolah, sehingga meskipun sudah selesai sekolah akan tetap belajar apa-apa yang tidak ditemui di sekolah. Hal ini lebih penting dikedepankan supaya tidak menjadi masyarakat berpendidikan yang tidak punya dasar pendidikan sehingga tidak mencapai kesempurnaan hidup. Apabila kesempurnaan hidup tidak tercapai berarti pendidikan belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Dasar atau landasan pendidikan dapat dilihat dari berbagai segi yaitu :

Pandangan Islam

  • Al-qur’an.

Al-qur’an merupakan pedoman tertinggi yang manjadi petunjuk dan dasar kita hidup di dunia. Dalam Al-qur’an kita bisa menemukan semua permasalahan hidup termasuk pendidikan dan ilmu pengetahuan.

  • Hadist

Hadist merupan pedoman kita setalah Al-qur’an, dengan demikian hadist juga merupakan dasar atau elemen dalam pendidikan.

Nilai-nilai Sosial kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan Al-qur’an dan Hadist.

Secara Umum

  • Religius

Merupaken elemen atau dasar pendidikan yang paling pokok, disini ditanamkan nilai nilai agama islam (iman, akidah dan akhlak) sebagai suatu pondasi yang kokoh dalam pendidikan

  • Ideologis

Yaitu mengacu kepada ideologi bangsa kita yakni nya pancasila dan berdasarkan kepada UUD 1945. Dan intinya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

  • Ekonomis

Pendidikan bisa dijadikan sebagai suatu langkah untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan keluar dari segala bentuk kebodohan dan kemiskinan.

  • Politis

Lebih mengacu kepada suasana politik yang berlansung.

  • Teknologis

Dunia telah mengalami eksplosit ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan bisa dikatakan teknologi sangat memiliki peran dalam kemajuan dunia pendidikan.

Psikologis dan Pedagogis

Tugas pendidikan sekolah yang utama adalah mengajarkan bagaimana cara belajar, mendidik kejiwaan, menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk belajar terus-menerus sepanjang hidupnya dan memberikan keterampilan kepada peserta didik, mengembangkan daya adaptasi yang besar dalam diri peserta didik.

Sosial Budaya

Mengacu kepada hubungan antara individu dengan individu lainnya dalam suatu lingkungan atau masyarakat. Begitu juga hal nya dengan budaya, budaya masyarakat sangat berperan dalam proses pendidikan, karena budaya identik dengan adat dan kebiasaan. Apabila sosial budaya seseorang itu berjalan baik maka pendidikan akan mudah dicapai.

B. Fungsi Dan Tujuan Pendidikan

Fungsi Pendidikan

Fungsi pendidikan merupakan serangkaian tugas atau misi yang diemban dan harus dilakukan oleh pendidik. Tugas atau misi pendidik itu dapat tertuju pada diri manusia yang dididik mauapun kepada masyarakat bangsa ditempat ia hidup. Adapun beberapa fungsi pendidikan:

1. Bagi dirinya sendiri, pendidikan berfungsi menyiapkan dirinya agar menjadi manusia secara utuh, sehingga ia dapat menunaikan tugas hidupnya secara baik dan dapat hidup wajar sebagai manusia.

2. Bagi masyarakat, pendidikan berfungis untuk melestarikan tata social dan tata nilai yang ada dalam masyarakat (preserveratif) dan sebagai agen pembaharuan social (direktif) sehingga dapat mengantisipasi masa depan.

3. Menyiapakan tenaga kerja

4. Menyiapkan manusia sebagai warga Negara yang baik.

5. Menyiapkan manusia sebagai manusia.

Tujuan Pendidikan akan menentukan kearah mana anak didik akan dibawa. Disamping itu pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia indonesia. Tujuan pendidikan dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu menurut islam dan tujuan pendidikan secara umum.

b. Tujuan Pendidikan Dalam Islam

Tujuan pendidikan islam adalah mendekatkan diri kita kepada Allah dan pendidikan islam lebih mengutamakan akhlak. Secara lebih luas pendidikan islam bertujuan untuk

- Pembinaan Akhlak

- Penguasaan Ilmu

- Keterampilan bekerja dalam masyarakat

- Mengembangkan akal dan Akhlak

- Pengajaran Kebudayaan

- Pembentukan kepribadian

- Menghambakan diri kepada Allah

- Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat

c. Tujuan Pendidikan Secara Umum

Tujuan pendidikan secara umum dapat dilihat sebagai berikut:

1. Tujuan pendidikan terdapat dalam UU No2 Tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan dan bertagwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan kerampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.

2. Tujuan Pendidikan nasional menurut TAP MPR NO II/MPR/1993 yaitu Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawaan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan.

3. TAP MPR No 4/MPR/1975, tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.

C. Jenis Lingkungan Pendidikan

Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun merupakan faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya yang sangat besar terhadap anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam satu lingkungan yang disadari atau tidak pasti akan mempengaruhi anak. Pada dasarnya lingkungan mencakup lingkungan fisik, lingkungan budaya, dan lingkungan sosial.

Lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan (pakaian, keadaan rumah, alat permainan, buku-buku, alat peraga, dll) dinamakan lingkungan pendidikan.

Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanaya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal.

Dilihat dari segi anak didik, tampak bahwa anak didik secara tetap hidup di dalam lingkungan masyarakat tertentu tempat ia mengalami pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantara lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah an lingkungan masyarakat, yang disebut tripusat pendidikan.

1. Keluarga

Keluarga merupakan pengelompokkan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang karena hubungan semenda dan sedarah. Keluarga itu dapat berbentuk keluarga inti (nucleus family: ayah, ibu dan anak) ataupun keluarga yang diperluas (disamping inti, ada orang lain: kakek/nenek, adik/ipar, pembantu dan lain-lain). Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh keseluruhan situasi dan kondisi keluarganya.

Sebagian dari tujuan pendidikan itu akan dicapai melalui jalur pendidikan sekolah ataupun jalur pendidikan luar sekolah lainnya (kursus, kelompok belajar dan sebagainya). Bahkan peran jalur pendidikan sekolah makin lama makin penting, khususnya yang berkaitan dengan aspek pengetahuan dan keterampilan. Hal ini tidak berarti bahwa keluarga dapat melepaskan diri dari tanggung jawab pendidikan anaknya itu, karena keluarga diharapkan bekerja sama dan mendukung kegiatan pusat pendidikan lainnya (sekolah dan masyarakat).

Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh adn berkembang dengan baik.

Pendidikan keluarga berfungsi:

Ø Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak

Ø Menjamin kehidupan emosional anak

Ø Menanamkan dasar pendidikan moral

Ø Memberikan dasar pendidikan sosial.

Ø Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.

2. Sekolah

Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan anak ke sekolah.

Sekolah merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Semakin jauh suatu masyarakat semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakatnya itu. Dari sisi lain, sekolah juga menerima banyak kritik atas berbagai kelemahan dan kekurangannya yang mencapami puncaknya dengan gagasan Ivan Illich untuk membebaskan masyarakat dari wajib sekolah dengan buku yang terkenal Bebas dari Sekolah (Deschooling Society, 1972/1982).

Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya sebagai berikut;

· Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.

· Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.

· Sekolah melaqtih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.

· Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.

3. Masyarakat

Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.

Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertia-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.

Kaitan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi, yakni:

a. Masyarakat sebagai penyelenggara pendidikan, baik yang dilembagakan (jalur sekolah dan jalur luar sekolah) maupun yang tidak dilembagakan (jalur luar sekolah).

b. Lembaga-lembaga kemasyarakatan dan/atau kelompok sosial di masyarakat, baik langsung maupun tak langsung, ikut mempunyai peran dan fungsi edukatif.

c. Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by designe) maupun yang dimanfaatkan (utility).

Fungsi masyarakat sebagai pusat pendidikan sangat tergantung pada taraf perkembangan dari masyarakat itu beserta sumber-sumber belajar yang tersedia didalamnya. Untuk Indonesia, perkembangan masyarakat itu sangat bervariasi, sehingga wujud sosial kebudayaan dalam masyarakat Indonesia dewasa ini, menurut Koentjaraningrat (dari Wayan Ardhana 1986: Modul 1/71-71) paling sedikit dapat dibedakan menjadi enam tipe sosial – budaya sebagai berikut:

1. Tipe masyarakat berdasarkan sistem berkebun yang amat sederhana, hidup dengan berburu dan belum mempunyai kebiasaan menanam padi. Sistem dasar ini kemasyarakatannya berupa desa terpencil tanpa diferensiasi dan stratifikasi yang berarti. Masyarakat ini tidak mengalami kebudayaan perunggu, kebudayaan Hindu dan agama Islam.

2. Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau sawah dengan tanaan pokok padi. Sistem dasar kemasyarakatannya adalah komunikasi pertani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial sedang dan yang merasakan diri sebagai bagian bawah dari suatu kebudayaan yang lebih besar. Gelombang pengaruh kebudayaan Hindu dan agama Islam tidak dialami. Arah orientasinya adalah masyarakat kota dengan peradaban kepegawaian.

3. Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan sistem bercocok tanam d ladang atau sawah dengan tanaman pokok padi. Sistem dasar ini kemasyarakatannya adalah desa komunitas petani dengan diferensiasi dam stratifikasi sosial sedang, gelombang pengaruh kebudayaan Hindu tidak dialami atau sangat kecil, sehingga terhapus oleh pengaruh agama Islam. Arah orientasinya adalah masyarakat kota yang mewujdukan peradaban bekas kerajaan, berdagang dengan pengaruh Islam, becampur dengan peradaban kepegawaian.

4. Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan sistem becocok tanam di sawah dengan tanaman pokok padi. Sistem dasar kemasyarakatannya adalah komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosoal yang agak kompleks. Masyarakat ini mengalami semua gelombang pengaruh kebudayaan asing, seperti kebudayaan Hindu, agama Islam dan Eropa. Arah orientasinya adalah masyarakat kota yang mewujudkan peradaban kepegawaian.

5. Tipe masyarakat perkotaan yang mempunyai ciri-ciri pusat pemerintahan dengan sektor perdagangan dan industri yang lemah. Tipe masyarakat metropolitan yang mengembangkan sektor perdagangan dan industri, tetapi masih didominasi oleh aktivitas kehidupan pemerintahan dengan suatu sektor kepegawaian yangluas dan kesibukan politik di tingkat daerah ataupun pusat.



BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari Uraian diatas dapat kami simpulkan bahwa : Pendidikan menurut pandangan islam lebih dominan kepada pembentukan akhlak, akidah dan iman. Sedangkan secara umum pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan pengembangan kemapuan yang dimiliki. Apabila kedua hal ini digabungkan maka hasil dari pendidikan akan sangat maksimal dan menghasilkan peserta didik yang memiliki intelektual dan akhlak yang mulia.

Dasar pendidikan menurut islam fokus kepada Al-qur’an dan hadist sedang secara umum dasar pendidikan juga lebih menitik beratkan ke dasar religius.

Tujuan Pendidikan baik secara islam dan umum hampir memiliki kesamaan yaitu mendapatkan kesuksesan. Apabila digabungkan maka tujuan pendidikan adalah upaya untuk meraih kesuksesan hidup di dunia dan akherat. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Untuk mendapatkan pendidikan yang baik maka perlu adanya pemahaman terhadap dasar dan tujuan pendidikan secara mendalam baik secara islam maupun secara umum. .

B. Saran

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masaih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan guna perbaikan makalah dimasa yang akan datang.

DAFTARA PUSTAKA

Hasbullah. 2005. Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrasindo Persada

W.J.S. Poerwadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : PN Balai Pustaka,1984)

UUD 1945, Undang-Undang Republik Indonesia dan Perubahannya, (Penabur Ilmu,

Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta